Lewati ke konten utama

Vibe Coding

Jelajahi slide, demo langsung, transkrip AI agent, repositori, tools, dan catatan praktis dari workshop Vibe Coding oleh Chrisando.

Klik presentasinya, lalu gunakan tombol panah atau kontrol Slidev untuk bernavigasi.

Materi workshop

Lihat kembali demonya, jelajahi kode sumbernya, dan temukan semua tools yang digunakan selama workshop.

Ringkasan workshop

Apa itu vibe coding

Jadi vibe coding itu artinya sebenarnya adalah bikin software yang beneran jalan cuma dengan ngomong apa yang kita mau dalam bahasa sehari-hari. Yang nulis dan jalanin code-nya AI agent, program yang bisa ngerjain tugas secara mandiri. Kita nggak perlu ngetik code sama sekali, cukup jelasin hasil yang kita mau.

Istilahnya masih baru banget, baru keluar awal 2025, tepatnya Februari 2025, waktu Andrej Karpathy, research scientist di tim pendiri OpenAI, cerita di Twitter soal cara dia sekarang nulis code. Semua detailnya dia serahin ke agent: "give in to the vibes, embrace exponentials, and forget that the code even exists." Intinya, cara kerja baru bikin software: manusia yang ngarahin, AI agent yang eksekusi.

Kenapa perlu dipelajari

Cara pembuatan software lagi benar-benar dirombak sekarang. Kita nggak perlu lagi nulis code dengan tangan. Banyak perusahaan bahkan udah mulai berhenti coding manual dan semuanya rely ke AI agent.

Dengan cara kerja baru ini kita mulai bisa gerak 10x lebih cepat. Prototype yang dulu butuh berminggu-minggu sekarang jadi dalam hitungan jam. Kerjaan yang biasanya makan waktu sebulan bisa beres kurang dari seminggu. Proyek yang tadinya butuh tim 10 orang bisa dikerjain tim 2-3 orang, dan kualitas software-nya justru makin luar biasa.

Dan ini nggak bakal berhenti di software. AI agent yang sama bisa dipakai buat riset, perencanaan, bikin laporan, analisis, sampai monitoring, jadi perombakan kayak gini bakal terjadi di semua industri. Jadi intinya: AI agent ini sangat berpengaruh, dan penting banget buat dipelajari.

Secepat apa model AI berkembang

Kecepatan perubahannya lebih enak dilihat sendiri daripada cuma percaya kata orang. Ada kelompok riset namanya METR (metr.org) yang ngukur ini secara konkret: berapa lama tugas yang bisa diselesaikan sebuah model AI dengan tingkat keberhasilan sekitar 50 persen. Angka ini terus dobel kira-kira setiap enam bulan.

Biar kebayang artinya, begini perkembangannya. GPT-2 cuma sanggup tugas sekitar 3 detik, sekelas jawab satu pertanyaan singkat. GPT-3.5, model di balik ChatGPT versi pertama, sekitar 36 detik. GPT-4 sekitar 4 menit, cukup buat nulis satu file code utuh.

Lalu menjelang awal 2025, o3 tembus sekitar 2 jam. Itu kira-kira setara bikin aplikasi to-do list sederhana yang beneran jalan, dan di titik ini AI agent yang beneran modern mulai muncul, sekaligus momen Karpathy ngasih nama vibe coding. Sekarang GPT-5.2 ada di sekitar 5,9 jam, kira-kira to-do list multi-user dengan login dan data yang tersimpan. GPT-5.6 Sol diproyeksikan nyampe sekitar 16 jam di 2026, sekelas to-do list lengkap dengan banyak fitur tambahan. Naiknya masih eksponensial, belum ada tanda-tanda melambat.

Nggak perlu paham code buat mulai

Sebenarnya buat mulai vibe coding, kita nggak terlalu butuh paham code. Yang bener-bener pure, kita nggak coding sama sekali dan rely sepenuhnya ke AI agent buat semua keputusan. Tapi untuk sekarang ini masih ada batasnya, karena AI agent masih suka bikin kesalahan dan masih bergantung sama kita buat dikasih instruksi yang benar. Rasanya masih kayak ngomong sama jin yang nggak terlalu ngerti apa yang sebetulnya kita mau.

Jadi kalau benar-benar nggak tahu coding sama sekali, project-nya masih terbatas ke yang nggak terlalu besar, kira-kira sekelas prototype yang butuh 1-3 minggu. Landing page atau e-commerce masih tercover lah. Software product yang produknya benar-benar software-nya juga masih bisa, tapi yang simple.

Lebih dari itu, kita mulai butuh knowledge software engineering. Software harus di-maintain dan bakal sering berubah, jadi kita harus bisa jelasin dengan tepat apa yang perlu diubah biar agent-nya nggak salah ubah. Makin lama project jalan, makin teliti juga kita mastiin security, performance, dan privacy tetap terjaga. Dan kalau user-nya makin banyak, udah pasti kita perlu makin ngerti code buat scale up.

Di level ini kita masih harus masuk ke program-nya, tapi kita rely ke AI agent biar gerak jauh lebih cepat: agent di-treat kayak coworker yang sangat pintar, kita delegate kerjaan ke mereka, tapi kita tetap harus ngerti dan review hasilnya. Orang-orang mulai nyebut cara kerja ini agentic engineering: engineering-nya dilakukan lewat AI agent, bukan manual.

Apa sebenarnya AI agent itu

AI agent itu sistem AI yang kerja mandiri buat nyelesaiin tugas. Cara kerjanya loop: bertindak, evaluasi hasilnya, adaptasi, coba lagi, ngulang terus sampai tugasnya beres. Buat itu dia pakai tools kayak browser, terminal (cara berbasis teks buat ngontrol komputer), sampai file-file kita.

Ini yang bedain agent sama ChatGPT dan chatbot lain. Chatbot cuma bolak-balik chat: kita kirim pesan, dia bales, selesai di situ. Agent terus kerja sendiri setelah dikasih instruksi, dan pada dasarnya bisa ngelakuin apa pun yang manusia bisa lakukan di komputer: edit dokumen, analisis data, sampai research. Claude dan Codex itu contoh AI agent yang kayak gini.